OpiniRagam

Mendampingi, Bukan Mendikte

×

Mendampingi, Bukan Mendikte

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Sebelum menginginkan anak kita menjadi sebaik ini atau sebaik itu, menjadi seperti ini atau seperti itu, sudah semestinya kita memikirkan dan mengusahakan diri menjadi sebaik-baiknya orang tua.

Karena,
Akan menjadi apa anak kita adalah rencana Allah. Prosesnya akan berlangsung dalam alur serta ukuran-ukuran Allah. Menempatkan proses hidup anak dalam ruang imajinasi kita akan membuat kita salah bersikap dan justru tidak hidup di dalam realitas Ilahi. Lalu kita menganggapnya sesuatu yang bisa kita kendalikan, dan kita menjadi tidak mampu memahami alur yang Allah berikan baginya jika itu berbeda dengan imajinasi kita.

Karena,
Allah telah menjadikannya lahir dengan fitrah yang hanif. Tugas orang tua adalah memeliharanya serta menjaga fitrah itu tetap lurus. Itu artinya kita mesti menjadi penjaga, bukan penentu; pendamping, bukan pendikte. Itu juga tentang bagaimana kita menjalankan tugas sebaik-baiknya. Tentang mengukur dan mengevaluasi diri kita sesuai ukuran-ukuran Allah, bukan mengukur dan mengevaluasi anak dengan ukuran dan imajinasi kita.

Karena,
Jika kita berpikir tentang “akan menjadi anak yang sebaik ini atau sebaik itu”, maka kalimat itu semestinya dilekatkan pada diri kita terlebih dahulu. Kita adalah anak dari orang tua kita, sebelum kita menjadi orang tua dari anak kita. Dan mereka, anak-anak kita, pastilah akan melihat bagaimana kita sebagai anak dari orang tua kita. Mereka akan melihat apa teladan yang kita berikan. Maka sekali lagi, jadilah orang tua yang baik. Berilah teladan yang baik.

Karena,
Sebagai orang tua, kita hanya sanggup berimajinasi tentang keberhasilan dan kehormatan yang akan diraih anak kita. Kita tak mampu membayangkan apa saja kegagalan dan kehinaan yang harus dilalui anak kita untuk sampai pada tujuan akhir misi hidupnya. Lalu, apakah kita akan menjadi orang tua yang membanggakan anak saat ia berhasil, namun menolaknya saat ia gagal? Allah Maha Adil dan Maha Seimbang. Allah yang akan meracik alur hidupnya sedemikian rupa. Imajinasi kita tidak berguna apa-apa.

BACA JUGA  BPJS Nggak Larang Rawat Inap Lama, Tapi Plafon Klaimnya Bikin Rumah Sakit Bingung

Karena,
Tugas kita memang itu: menjadi orang tua. Lakukan yang terbaik, maka Allah akan rida. Keridaan Allah atas kita semoga menjadi naungan berkah bagi anak-anak kita. Lalu, dalam naungan berkah itu, mereka tumbuh menjadi manusia yang baik, melebihi batas-batas imajinasi kita. Seorang jenderal, peneliti kelas dunia, hafiz, dan ulama besar bisa terlahir dari orang tua berpendidikan terbatas, dari petani desa, atau guru biasa. Bukan imajinasi yang mengantarkan anak-anak itu, tetapi doa dan dedikasi pengabdian orang tua mereka. Apa yang diraih sang anak bisa jadi tak pernah ada dalam alam pikiran orang tuanya.

Jadilah orang tua terbaik. Ikhtiarkan yang terbaik. Simpan imajinasi kita. Ganti dengan doa. Itulah tugas kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *