BANYUMASMEDIA.COM – “Itu kemangi!” ujar Wima bersemangat saat memeriksa semak-semak di sekitarnya.
“Ah, sudah layu,” kata siswi Mula (jenjang usia 6–8 tahun) Sekolah Alam Yogyakarta ini, setelah memeriksa tanaman itu lekat-lekat.
Wima segera berjalan mencari-cari lagi. “Ah, ini kemangi lagi,” kata Wima, lalu memetik rezeki yang baru ia temukan.
Meramban, itulah pelajaran untuk siswa-siswa Sayogya kali ini. Sebelum berkegiatan, Pak Fery, pamong Sayogya, menjelaskan kepada anak-anak tentang meramban.
Konsep rezeki yang uang-sentris ini juga bisa membuat kita tidak menyadari berbagai bentuk rezeki lain yang sebenarnya Allah berikan kepada kita. Meramban menjadi salah satu cara agar anak belajar meluaskan konsep rezeki. Anak belajar menjemput rezeki yang sudah Allah hadirkan di sekitarnya.
Di Beran Kidul, padukuhan tempat Sayogya berdiri terdapat banyak tanaman yang bisa dijadikan bahan pangan. Dalam satu diskusi, saya bertanya kepada Bu Desi, pamong Sayogya, “Apa saja tanaman yang bisa menjadi objek meramban ini?”
Bu Desi menuliskan daftarnya, baik yang bisa diambil daunnya, bunganya, batangnya, hingga rempah. Totalnya mencapai 66 jenis. “Masih banyak yang belum tertulis di sini sebenarnya,” kata Bu Desi.
Untuk bisa mengenali rezeki-rezeki yang Allah hamparkan di sekitar mereka, pelajaran meramban ini diberikan. “Jika kita tidak mengenalinya, kita tidak akan tahu mana saja tanaman yang bisa kita konsumsi,” kata Pak Fery kepada anak-anak.
Bagi saya sendiri, ada kenikmatan tersendiri saat memperhatikan anak-anak ini mengeksplorasi alam di sekitar mereka. Beran Kidul adalah tempat mereka berkegiatan sehari-hari. Tempat yang sudah biasa mereka lalui. Namun, dengan memberi gagasan kepada mereka untuk mencari tanaman-tanaman yang bisa dimanfaatkan, pengalaman mereka di lingkungan ini menjadi terasa baru.
Meramban menjadi permainan yang seru bagi mereka. Mencari tanaman mana saja yang bisa dikonsumsi, mana saja yang bisa dipakai. Proses mencarinya menjadi kebahagiaan tersendiri.
Saat mendapatkannya, terasa ada kepuasan yang hadir pada mereka. Ditambah lagi saat perjalanan pulang, ada kebanggaan karena membawa hasil bumi dengan tangan mereka sendiri—membangun keberhargaan diri yang positif di dalam diri mereka.
Mendidik anak-anak adalah proses memberikan bekal untuk membawa mereka bahagia. Bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Meramban mengajarkan anak untuk bahagia karena mengetahui tanaman-tanaman yang bisa dimanfaatkan, bahagia di dunia. Sekaligus mensyukuri rezeki yang Allah berikan di sekitarnya, bekal bahagia di akhirat.
Bahagia itu butuh ilmu, tetapi tidak pernah rumit. Kalau kata orang, bahagia itu sederhana. Sesederhana menyadari betapa berlimpahnya rezeki yang Allah tebarkan. Seperti Wima, yang menemukan kebahagiaan saat menemukan kemangi yang bisa ia petik.
“Istilah ngeramban itu dulunya dipakai untuk kegiatan mencari dedaunan pakan ternak saat hujan. Ternak tidak mau makan rumput yang basah. Tapi kalau daun yang basah, sapi dan kambing masih mau makan. Sekarang, istilah ngeramban dipakai untuk kegiatan mencari bahan pangan di sekitar kita. Bahasa Inggrisnya foraging,” kata Pak Fery kepada anak-anak.
Gerimis hujan tidak menghentikan aktivitas meramban di luar ruangan sore itu. Justru hujan meningkatkan antusiasme anak-anak untuk mengeksplorasi. Jangan sampai anak belajar membenci hujan. Bukankah hujan itu rezeki penuh keberkahan?
Di masa modern ini, konsep rezeki sering kali disempitkan menjadi uang. Banyak uang berarti banyak rezeki. Konsep ini terbawa ke ranah pendidikan: anak-anak bersekolah dengan tujuan agar bisa mencari uang setelah lulus kelak. Jika uang yang dihasilkan sedikit, berarti rezekinya sempit.
Jebakan konsep rezeki yang berpusat pada uang bisa berakibat fatal. Misalnya, menimbulkan trauma finansial yang terbawa hingga dewasa. Ada yang gelisah ketika jumlah uang di rekeningnya berada di bawah nominal tertentu, padahal jumlah tersebut masih tergolong lebih dari cukup untuk menopang hidupnya dan keluarga selama beberapa bulan.











