BANYUMASMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan gerak cepat dalam menangani korban bencana tanah gerak di Dukuh Makam dan Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes.
Di antara yang dilakukan yaitu menyiapkan hunian tetap (Huntap) bagi para warga terdampak bencana tanah gerak. Pasalnya, saat ini mereka harus hidup dalam pengungsian di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan, Desa Sridadi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas C Penanggungan mengatakan, dari pendataannya saat ini ada sekitar 143 rumah yang rusak.
“Korban tanah gerak jumlahnya kurang lebih sekitar 143 rumah (rusak berat). 143 rumah itu terjadi kerusakan karena tanah gerak dari ringan sampai berat tentunya, sampai ada yang roboh juga. Terdampak 175 KK,” kata Bergas saat peninjauan di lokasi, Rabu (18/2/2026).
Ditambahkan, warga berharap kepada pemerintah untuk dibangunkan huntap, agar mereka bisa hidup lebih tenang dan tidak berlama-lama di pengungsian. Kaitannya permintaan warga, Bergas menyampaikan saat ini dilakukan pencarian lokasi huntap.

“Harapan mereka huntap. Ini kan sedang proses dicarikan lokasinya ya. Memang informasi yang kami terima lokasi sementara sebagai alternatif itu di Perhutani, atau lahan Perhutani,” ujarnya.
Lahan itu berada tak jauh dari wilayah warga. Demi keamanan dan kelayakan, Bergas menuturkan, hal itu membutuhkan kajian geologi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Manusia.
“Semoga saja tidak banyak permasalahan. Karena kan tadi tidak mudah ya, kita bicara relokasi, merelokasi warga itu kan tidak mudah. Apalagi lokasinya itu memang sulit sekali ditemukan tanah-tanah yang baik secara geologi,” terangnya.
Seorang pengungsi, Juliandi mengatakan rumah warga banyak yang roboh. Setiap hari tanahnya bergerak atau jalan terus. “Warga takut, makanya diungsikan,” ujar Juliandi, salah satu pengungsi, ditemui di lokasi pengungsian.
Data sementara mencatat sedikitnya 147 rumah terdampak, termasuk masjid dan TPQ. Total warga yang harus meninggalkan rumah mencapai 532 jiwa. Sawah-sawah ikut rusak. Struktur tanah berubah. Retakan tak lagi sekadar garis tipis, melainkan ancaman nyata.
Pengungsi lain Masrifah, 59 tahun masih terbayang bunyi retakan dari rumah kayunya.
“Tiap malam bunyi terus. Retak-retak. Takut lepas,” katanya pelan.
Rumahnya sudah diperbaiki seadanya, namun dua hari kemudian retakan muncul lagi. Pagi-pagi pukul 06.00 WIB, Masrifah memutuskan mengungsi bersama warga lain.
“Kalau hujan takut longsor. Sungainya sudah dekat,” ungkapnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Bambang Rudiansyah, membuka pintu bagi para korban.
“Untuk sementara sekitar 50 orang sudah masuk. Kemungkinan masih bertahap,” ujarnya.
Bambang membeberkan, untuk menampung warga, ruang belajar dan asrama disulap menjadi tempat tidur darurat. Kegiatan santri dialihkan ke masjid. Fasilitas kamar mandi dan tempat wudu dibuka untuk umum. Ramadan yang biasanya penuh agenda pesantren, kini berbagi ruang dengan warga.
Kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama jajaran membuktikan kepedulian pemerintah kepada warga terdampak bencana alam. Termasuk dari pemerintah kabupaten setempat sebagai bentuk sinergi berbagai kalangan.[]











