Buku

Buku Bacaan Memulai Awal Tahun

×

Buku Bacaan Memulai Awal Tahun

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Awal tahun selalu datang dengan suara yang lebih pelan. Tidak seperti akhir tahun yang riuh oleh rangkuman, pencapaian, dan daftar resolusi, Januari justru sering terasa lengang. Di sela kalender yang masih bersih dan halaman hidup yang belum banyak coretan, ada kebutuhan sederhana: menenangkan diri. Di titik inilah membaca menemukan momentumnya.

Bacaan ideal di awal tahun bukanlah yang memacu adrenalin, apalagi yang memaksa kita segera “menjadi sesuatu”. Ia justru hadir sebagai teman duduk, di teras pagi, di sudut kamar menjelang tidur, atau di sela hujan yang turun tanpa rencana. Bacaan yang baik di awal tahun memberi jeda, membuka ruang refleksi, dan membiarkan pembacanya bernapas pelan.

Jenis bacaan seperti ini biasanya tidak berteriak. Ia tidak menjanjikan perubahan hidup dalam tujuh langkah, tidak pula memamerkan konflik yang dipaksakan. Sebaliknya, ia bekerja diam-diam, lewat narasi yang jujur, tokoh yang manusiawi, dan tema yang dekat dengan keseharian.

Novel-novel reflektif menjadi pilihan yang banyak dicari. Karya-karya yang mengendapkan pengalaman hidup, tentang pulang, tentang kehilangan, tentang iman yang dijalani secara sunyi sering terasa lebih relevan di awal tahun. Novel seperti Sebuah Surau karya Artie Ahmad, misalnya, tidak sekadar bercerita tentang bangunan ibadah, tetapi tentang keteguhan akhlak, kesabaran, dan cara beragama yang lembut di tengah tekanan kuasa. Membacanya di awal tahun terasa seperti diajak menata ulang niat.

Selain fiksi reflektif, bacaan sosial yang humanis juga menemukan tempatnya. Buku-buku yang membicarakan kemiskinan, pendidikan, dan ketimpangan, tetapi dengan bahasa yang membumi, justru membantu pembaca menengok ulang posisi dirinya dalam masyarakat. Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Eko Prasetyo, misalnya, bukan sekadar kritik kebijakan, melainkan kesaksian tentang realitas yang sering luput dari percakapan kelas menengah. Membacanya di awal tahun bukan untuk merasa bersalah, melainkan untuk tetap waras dan peduli.

BACA JUGA  “Guru Aini”: Sebuah Prekuel tentang Guru, Murid, dan Rahasia Keberanian

Catatan perjalanan dan memoar juga sering menjadi bacaan yang menenangkan. Ada sesuatu yang meneduhkan ketika membaca pengalaman hidup orang lain yang dituturkan apa adanya. Dari sana, pembaca belajar bahwa hidup tidak selalu lurus, tidak selalu selesai, dan tidak selalu harus dipahami sekaligus. Buku-buku semacam ini mengajarkan bahwa tersesat pun bagian dari perjalanan.

Di sisi lain, spiritualitas kultural yang tidak hadir sebagai ceramah, menjadi bacaan yang semakin dicari. Buku-buku yang menempatkan iman sebagai pengalaman batin, bukan sekadar aturan, terasa relevan di awal tahun. Spiritualitas yang membumi, yang berkelindan dengan budaya, relasi sosial, dan keseharian, memberi rasa hangat yang bertahan lama. Ia tidak memaksa pembaca menjadi saleh, tetapi mengajak menjadi manusia yang lebih jujur.

Tak kalah penting, bacaan ringan yang menghangatkan, sering disebut comfort reading, juga memiliki tempatnya sendiri. Cerita dengan alur sederhana, tokoh yang akrab, dan konflik yang tidak berlebihan, justru membantu pembaca kembali mencintai kegiatan membaca itu sendiri. Di awal tahun, mencintai kembali proses sering kali lebih penting daripada mengejar target.

Benang merah dari bacaan ideal awal tahun adalah suasana. Ia tidak dibaca dengan tergesa-gesa, tidak pula ditamatkan demi prestasi. Ia dibaca sambil sesekali berhenti, menutup halaman, lalu memikirkan satu-dua kalimat yang terasa dekat. Bacaan semacam ini tidak selalu diingat alurnya, tetapi perasaannya menetap lebih lama.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tuntutan, membaca di awal tahun adalah bentuk perlawanan kecil: memilih pelan, memilih hening, memilih jujur pada diri sendiri. Buku-buku yang menenangkan dan reflektif membantu kita mengawali tahun bukan dengan ambisi yang berisik, melainkan dengan kesadaran.

Mungkin itulah fungsi paling dasar dari membaca: bukan untuk menjadi lebih hebat, tetapi untuk tetap manusia.[asr]

BACA JUGA  “Sirkus Pohon”: Jenaka, Ironis, dan Sarat Kritik Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *