FaunaRagam

Kukang: Si Mager Filosofis yang Sudah Eksis Sejak 64 Juta Tahun Lalu

×

Kukang: Si Mager Filosofis yang Sudah Eksis Sejak 64 Juta Tahun Lalu

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kalau kamu pernah nonton Zootopia, pasti ingat Flash yang paling bikin emosi sedunia. Geraknya pelan banget. Namun, apakah semua kukang begitu? Jawabannya: iya. Dan itu bukan karena mereka malas. Mereka cuma slow living banget, bahkan sebelum tren healing dan detoks digital jadi gaya hidup urban.

Mari kita kenalan dulu. Kukang itu mamalia dari famili Megalonychidae dan Bradypodidae, beda-beda jari, tapi tetap satu kukang. Mereka bukan warga lokal Indonesia; asalnya dari Amerika Latin sana, bukan dari Banyumas atau Cilacap. Tapi jangan khawatir, saudara jauh mereka, si kukang Jawa juga eksis di hutan tropis kita.

Soal gerak lambat, kukang memang juaranya. Tapi bukan berarti mereka hewan purba yang kalah bersaing. Justru sebaliknya, kukang adalah legenda hidup yang sudah eksis sejak 64 juta tahun lalu. Artinya, saat dinosaurus punah, kukang masih santai bergelantungan di pohon sambil mikir, “Lah, kok sepi?”

Tapi zaman sekarang, ancaman mereka bukan dari T-Rex atau Jaguar. Ancaman paling nyata justru datang dari manusia melalui perburuan liar untuk perdagangan, perusakan habitat, dan faktor lainnya.  Padahal kukang cuma butuh satu: tempat bergelantung dan hidup damai.

Kenapa sih mereka bisa sepelan itu? Jawabannya panjang, dan ilmiah.

Pertama, kukang itu buta warna. Mereka tidak punya sel kerucut di mata. Jadi, kalau kamu tiba-tiba pake baju neon dan berharap kukang nyapa karena kamu mencolok, ya maaf, dia nggak lihat.

Kedua, sistem pencernaan mereka kayak antrean sembako: lama banget. Kukang makan daun, makanan yang kalorinya pas-pasan. Dengan sistem pencernaan empat bilik lambung kayak sapi. Tapi yang bikin geleng-geleng, proses dari makan sampai pup bisa makan waktu 50 hari. Jadi jangan harap mereka bisa lari-lari lucu kayak tupai. Energinya dipakai buat… hidup aja udah cukup berat.

BACA JUGA  Burung Hantu Serak Jawa: Penjaga Sunyi Sawah dan Malam Desa

Ketiga, metabolisme kukang rendah banget. Bahkan di antara mamalia, mereka termasuk paling irits. Suhu tubuh mereka bisa anjlok sampai 20°C. Artinya, kalau suhu naik-turun dikit aja, kukang udah mager duluan. Beneran hewan paling cocok hidup di era naiknya harga gas melon.

Keempat, otot mereka cuma 30% dari mamalia lain yang ukurannya sama. Tapi jangan salah, walau ototnya hemat, strukturnya efisien. Mereka bisa bergelantungan berjam-jam tanpa capek. Coba kamu ngangkat tangan dua jam aja sambil baca caption mantan, pasti udah gemetar duluan.

Dan terakhir, gerakan lambat itu strategi bertahan hidup. Pemangsa macam Jaguar mendeteksi mangsanya lewat gerakan. Kukang, dengan jurus slow motion-nya, jadi nggak kelihatan. Ditambah bulu yang ditumbuhi ganggang hijau, kukang jadi ninja dedaunan yang lihai sembunyi.

Jadi, jangan bilang kukang itu malas. Mereka cuma hidup dengan ritme berbeda. Lebih filosofis. Lebih hemat energi. Lebih tahu cara menikmati hidup. Di saat kita sibuk mengejar target dan lembur sampai amnesia hari, kukang ngajarin satu hal penting: hidup itu bukan lomba cepat-cepatan. Kadang, diam dan tetap bertahan adalah pencapaian paling bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *